Tentang toleransi adalah tentang hal yang sering dituntut banyak
orang sebagai bukti orang yang terpelajar.
Tentang toleransi adalah tentang keberanian untuk membiarkan apa
yang tidak berhak kita kendalikan, tetap terjadi atau tetap dilakukan.
Tentang toleransi adalah tentang kondisi yang sejatinya tidak
menuntut pembenaran bagi apa yang tidak diyakini benar.
Let
them do that, it doesn’t matter with my belief because they have their own
belief.
Mungkin itu kalimat yang bisa saya ungkapkan mengenai toleransi
setelah saya mempelajari mata kuliah pancasila selama satu semester. Sempat
saya kebingungan dan sedikit gelisah dengan tuntutan toleransi dalam
berkehidupan. Saya takut ketika saya terus mentolerir apa yang tidak saya
yakini di sekitar saya, membuat apa yang selama ini saya yakini luntur. Akan
tetapi saya mendapatkan jawabannya di kelas pancasila, seperti yang telah saya
jabarkan sebelumnya bahwa toleransi tidak harus membenarkan tapi cukup dengan
membiarkan.
Dalam konteks bermasyarakat, ada
saatnya kondisi ideal tidak selalu terwujud di dalam kehidupan ini. Misalnya
munculnya perbedaan dimana-mana seperti perbedaan pendapat, perbedaan pandangan,
perbedaan kepentingan, hingga sampai pada perbedaan keyakinan. Dan kapan
toleransi muncul? Saya kira ketika terjadinya perbedaan-perbedaan tersebut, ya
salah satunya perbedaan keyakinan. Jika sudah menyangkut keyakinan, saya lebih
cenderung untuk menerapkan toleransi. Keyakinan yang dimaksud disini tidak
terbatas pada agama, tapi semua hal yang diyakini seseorang misalnya mengenai
baik dan buruk tidaknya suatu tindakan.
Dalam kondisi tersebut, saya memahami toleransi sebagai sebuah rem
keyakinan. Rem yang senantiasa menghentikan saya untuk menuntut orang lain
memiliki keyakinan yang sama dengan saya. Penghentian tersebut merupakan
pembatasan bagi diri saya untuk tidak menganggu hak dan kebebasan orang lain. Namun,
penghentian tersebut tidak berarti saya membenarkan keyakinan yang lain. Itu
karena saya tetap merasa keyakinan sayalah yang paling benar. Lalu apakah itu
sebuah sikap intoleransi? saya pikir tidak, itu bukan merupakan sikap yang intoleran. Saya
hanya menerapkan makna dari toleransi yakni tidak harus membenarkan tapi
membiarkan. Saya tidak membenarkan keyakinan orang lain, tapi saya tetap
membiarkan orang lain untuk mempunyai keyakinan yang berbeda dengan saya.
Bagi saya, pernyataan bahwa saya merasa keyakinan saya yang paling
benar, itu bukan merupakan contoh sikap intoleran. Karena jika saya tidak
merasa keyakinan sayalah yang paling benar, lantas mengapa saya harus
meyakininya? Kenapa tidak keyakinan yang lain? Bisa jadi keyakinan lain itulah
yang seharusnya diyakini? Dengan demikian, selama pernyataan tersebut tidak
menghasilkan perbuatan yang menggangu hak dan kebebasan orang lain, maka itu
bukanlah sikap intoleran. Karena bertoleransi adalah membiarkan orang lain
untuk menjalani kehidupannya dengan bebas selama dia tidak mengganggu ranah
kebebasan kita.
Sepertinya kehidupan memang punya
dimensinya sendiri, dan saya baru sadar jika tidak hanya ada satu dimensi dalam
kehidupan ini. Dalam dimensi beragama,
tentu ada keyakinan-keyakinan tertentu yang menjadi landasan dalam misalnya
setiap perilaku kita. Akan tetapi, dalam dimensi bernegara, tentu ada konteks
yang berbeda, ada dimensi yang berubah, dimensi yang harus melingkupi ruang
yang berbeda, sehingga dasarnya pun menjadi berbeda, sebagai contoh pancasila.
Tentang kedua landasan atau dasar tersebut, kita hanya dapat menggunakannya
dalam masing-masing dimensinya sendiri. Kita tidak bisa mencampuradukan, pola pikir
dalam dimensi tersebut dalam waktu yang bersamaan. Oleh karena itu, yang menjadi
tantangan adalah bagaimana kita bisa tetap menjalani keduanya secara
beriringan. Keyakinan kita ya untuk kita, dan karena kita hidup bernegara, ya
pancasila yang jadi dasar, bukan keyakinan.
Saya rasa ada sedikit perbedaan
antara keyakinan dan agama yang dianut seseorang. Jika ada dua orang yang
memiliki agama yang sama, belum tentu memiliki keyakinan yang sama. Begitupun
sebaliknya, jika ada dua orang yang memiliki agama berbeda, belum tentu
memiliki keyakinan yang berbeda. Hal itu karena banyak faktor yang mendasari
keyakinan seseorang dan faktor-faktor tersebut bukanlah hanya berasal dari
agama. Malah seringkali, saya merasa perbedaan-perbedaan keyakinan yang terjadi
di dalam satu agama menjadi lebih menantang dibanding perbedaan karena berbeda agama.
Misalnya saja topik yang diangkat oleh teman-teman saya dalam videonya yang bisa dilihat di youtube
berjudul "islamku? Islammu!", saya malah merasa sikap
toleransi saya ditantang untuk dapat diterapkan setelah menontonnya.
Berdasarkan keyakinan saya, saya cukup tidak setuju dengan pesan
yang ingin disampaikan dari film tersebut. Perasaaan itu murni dikarenakan
keyakinan saya. Akan tetapi, dalam konteks berteman, belajar berbangsa, belajar
pancasila, pesan itu sah sah saja. Dan disinilah penerapan pola pikir saya
terhadap perbedaan dimensi itu harus diterapkan. Saya tidak bisa memaksakan
pola pikir saya dalam berkeyakinan ke dalam pola pikir saya pada konteks
bermasyarakat. Hingga pada akhirnya, saya harus menerapkan toleransi dengan membiarkan
jika ada sebagian orang yang beragama sama dengan saya namun memiliki keyakinan
yang berbeda. Bagi saya, itu kerap kali menjadi hal yang berat untuk dilakukan.
Mungkin lagi-lagi karena itu kaitannya dengan keyakinan. Mungkin hal itu juga dikarenakan
harapan pribadi saya terhadap keselarasan berkeyakinan dalam agama saya cukup
tinggi.
Di sisi lain, perbedaan dalam dimensi berkeyakinan pun terjadi
dalam kondisi agama yang berbeda. Tapi saya malah jauh lebih bisa menerima hal
tersebut, dan lebih mudah bagi saya untuk menerapkan toleransi. Saya merasa
lebih leluasa untuk membiarkan perbedaan-perbedaan keyakinan itu terjadi.
Bahkan, saya menemukan keindahan dalam perbedaan tersebut. Pengalaman bersahabat
dengan teman yang berbeda agama memberikan pelajaran dan keindahan yang unik
bagi saya. Saya menemukan dasar, landasan dalam menjalani persahabatan
tersebut, bukan keyakinan dan juga bukan sepenuhnya pancasila. Saya merasa ada nilai-nilai lain yang tumbuh
ketika kami berinteraksi, nilai-nilai yang tidak perlu kami deklarasikan, namun
kami jadikan dasar dalam bersahabat. Nilai tersebut adalah nilai kasih sayang, human
beings.
Pernah sekali waktu, ketika momen halal bi halal yang dilaksanakan
di kampus, saya tiba-tiba meneteskan air mata melihat teman saya yang berbeda
agama berpartisipasi dengan menyanyikan sebuah lagu bertema kedamaian. Saya
sadar saat itu bahwa dalam dimensi itu, keyakinan saya tentang konsep Tuhan,
keyakinan bertoleransi dalam berpancasila, menjadi hal yang tidak signifikan.
Kenapa saya menangis, kenapa ia menangis, bukan karena saking kami
bertoleransinya, bukan karena kami mengesampingkan keyakinan kami, tapi karena
ada suatu dasar lain, landasan baru yakni kasih sayang.
Saya menangis karena kebahagiaan yang kami rasakan bersama, karena
kami berhasil membangun dasar baru di luar keyakinan kami untuk kami jadikan
alasan dan dasar dalam bersahabat. Saya bahagia karena sahabat saya ikut
berpartisipasi dalam kebahagiaan itu meski mungkin ia tidak mengerti dimensi
keyakinan saya. Tapi ia ada dan bahagia karena saya bahagia. Bagi kami,
perbedaan agama adalah satu hal sederhana dalam dimensi kehidupan kami yang
tidak dapat kami campuradukan tapi juga bisa berjalan beriringan. Perbedaan
keyakinan itu tuh seperti perbedaan keyakinan kami terhadap sebuah obat.
Misalnya kami sama-sama sakit maag, saya percaya sama obat serbuk sedangkan
sahabat saya percaya dengan khasiat obat tablet. Tujuannya sama-sama minum obat
biar sembuh, tapi perbedaan itu tidak membuat kami harus bertengkar karena hal
itu. Selanjutnya, saya juga selalu berusaha untuk berpartisipasi dalam momen
kebahagiaan dalam dimensi kehidupannya. Misalnya pada perayaan natal yang
dilaksanakan olehnya, saya berpartisipasi bukan karena saya membenarkan apa
yang diyakini dalam perayaan itu. Saya juga tidak sedang mengkhianati keyakinan
saya, saya hanya menjalani dimensi kehidupan saya yang lain, selain dimensi
berkeyakinan. Hidup ini indah, menjalani setiap dimensinya, dan mengatur switch
on off pola pikir sesuai dengan
dimensi kehidupan yang sedang dijalani.