Jumat, 22 April 2011

Nurani ku berkata dari perspektif yang selama ini kusalahkan

Memang siapa yang patut disalahkan kalau kami dilahirkan dari keluarga yang tak terdidik, tak berpenghasilan banyak pula. Lalu apa masih kami yang harus disalahkan jika kami tak mau bersekolah? Kami takut, takut menjadi orang cerdas yang nantinya penuh pertimbangan dalam mengambil keputusan, hingga yang benar dan salah menjadi bias bagi kami..
Sungguh kami ketakutan jika kami berusaha untuk menjadi cerdas, Kami sendirilah yang akan tergerus jaman dan terbirit lari ke gubuk kami lagi. Lihatlah dari sudut pandang kami, mengapakah anda-anda selalu menyalahkan kami yang tak punya tekad untuk maju? Mengapakah anda fikir kami tak mau berubah? Seharusnya anda sudah tahu, pemikiran kami tak sejauh dan setinggi pemikiran yang anda punya. Mungkin kami hanya menjalani peran yang memang seharusnya ada di bumi ini. Jika tak ada orang yang tak cerdas, dan tak mempunyai keberanian untuk melawan nasib seperti kami. Lantas siapa yang akan membangun rumah anda? Siapa yang akan memperbaiki septic tank anda jika rusak? Lalu siapa yang akan memberikan suara dengan mudah hanya karena diberikan sedikit beras dan mie pada pemilihan para pemimpin anda sekarang? Lantas anda selalu berkata bahwa seseorang yang berhasil ialah orang yang cerdas yang mau mengusahakan hidupnya? Sudahlah jalani hidup anda, teruskan usaha anda untuk mengubah dunia!
Pesan kami,
nanti ketika anda sudah berhasil membangun kehidupan yang nyaman, maka janganlah lupa untuk membangun juga tempat bagi kami. Sederhana sajalah, yang penting kami bisa menjalani peran kami di bumi kita ini, kami hanya ingin menjalani hidup bersama kalian dengan bahagia.

Jumat, 15 April 2011

Bekerja untuk Kuliah??? Lho?!!

“Kuliah juga tujuan akhir nya kerja kan?” sering rasanya mendengar opini publik seperti itu, menggelitik dan sangat terkesan merendahkan makna belajar yang luhur bukan? Atau apa benar tak banyak orang yang sadar apa esensi utama dari kuliah itu? Besar harapan jawabannya adalah tidak. Namun jika iya, akan jadi seperti apa potret pendidikan di Negara kita tercinta ini? Maka cukup pantaslah bagi mahasiswa dan calon mahasiswa untuk memahami tujuan utama dari kuliah dan belajar, yaitu tak lain ialah untuk mencari ilmu, keahlian, dan keterampilan..

Namun, pada kenyataannya tak semua orang punya kesempatan untuk merasakan bangku kuliah dan mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Sehingga tak bisa dipungkiri opini publik diatas bisa jadi berbalik. Bagi mereka yang tak berkesempatan merasakan bangku kuliah regular, besar kemungkinan mereka untuk mencari pekerjaan terlebih dahulu. Sayangnya kenyataan di Indonesia saat ini, kesempatan kerja yang menjanjikan hanyalah ditujukan bagi orang yang merasakan bangku kuliah, dengan kata lain orang-orang yang telah mendapat gelar S1 atau minimal D3. Seperti bisa dilihat di beberapa Koran atau Situs di Internet yang menyediakan informasi lowongan kerja, kebanyakan kesempatan untuk posisi yang cukup tinggi itu ditujukan untuk lulusan Universitas bukan Sekolah Menengah. Persyaratan tersebut sangatlah membatasi mereka yang belum sempat merasakan bangku kuliah namun memiliki kemampuan yang cukup bisa diandalkan. Belum sempat beradu kemampuan, mereka harus tersisih oleh persyaratan registrasi. Adilkah? Sudah pasti tidak.

Jelaslah tak adil bagi mereka yang mempunyai kemampuan tapi belum mendapatkan kesempatan untuk duduk dibangku kuliah. Memang masih terasa kental sekali bahwa orientasi perusahaan-perusahaan di Indonesia saat ini masih pada gelar yang menurut mereka menjamin kemampuan seseorang. Oleh karena itu, bagi mereka yang belum mendapatkan gelar, haruslah mereka rela mengajukan lamaran untuk posisi yang lebih rendah daripada mereka yang sudah mendapat gelar sarjana.
Melihat kenyataan bahwa untuk melanjutkan pendidikan ke universtias banyak dari lulusan Sekolah Menengah yang terhalangi oleh biaya sedangkan untuk bekerja pada posisi yang tinggipun memerlukan gelar terlebihdahulu sebagai jaminan profesionalitas bagi perusahaan. Maka sudah tepat bagi mereka untuk memilih bekerja sebagai solusinya. Bahkan tak sedikit dari mereka yang memutuskan untuk mengambil kelas ekstensi hanya agar dapat merasakan bangku kuliah. Cukuplah untuk mematahkan opini publik yang menjudge bahwa kuliah hanya semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan. Karena ternyata, ada mahasiswa kelas ekstensi yang menjadikan pekerjaan sebagai alat baginya untuk mendapatkan kuliah yang berkualitas.

Lho, bekerja untuk kuliah? Ya, bekerja agar mendapat penghasilan untuk membiayai kuliah. Demi mendapatkan pendidikan, bekerja di siang hari dan kemudian tetap bersemangat mencari ilmu dimalam hari. Efektifkah cara belajar macam itu? Tergantung. Tergantung seberapa besar kemauan mahasiswa untuk mendapatkan pengetahuan dari proses belajar itu sendiri. Jikalah gelar cukup menjadi tujuan utama, maka proses belajarpun hanya jadi sebatas rangkaian persyaratan untuk bisa mendapatkan gelar. Namun, bagi orang yang benar-benar berorientasi pada ilmu dan memiliki semangat yang tinggi, rasa lelah setelah menjalani seabrek aktivitas dikantor pada siang hingga senja haripun tak akan terasa lagi. Yang menjadi persoalannya ialah, apakah semangat mendapatkan ilmu tersebut juga terfasilitasi oleh kualitas kampus yang menyediakan kelas ekstensi? Semoga iya, karena tentu tak adil bagi mereka yang bekerja membanting tulang hanya agar bisa merasakan bangku kuliah dan belajar demi mendapatkan ilmu, namun kemudian harus mendapati fakta bahwa kualitas belajar yang mereka terima tak sebanding dengan pengorbanan mereka untuk mendapatkannya.

Di Indonesia sendiri, banyak sekali universitas-universitas yang menyediakan kelas ekstensi. Tak hanya universitas swasta, univesitas negeripun ada yang menyediakan kelas ekstensi. UNPAD, UI dan UGM pun sempat menyediakan kelas ekstensi. Namun faktanya pada tahun 2009, UGM telah menutup program ekstensinya, sedangkan ekstensi UI rumornya pun akan ditutup. Adapun alasan utama ditutupnya program ekstensi di UGM ialah karena universitas ingin meningkatkan mutu pendidikan. Semenjak UGM membuka kelas ekstensi peringkatnya sebagai universitas berkualitas pun menurun.
Nah? Bagaimana sebenarnya kualitas dari program ekstensi yang disediakan oleh UGM, sehingga bisa menyebabkan penurunan penilaian terhadap mutu pendidikan? Jika lah universitas sebesar itupun, dapat menutup program ekstensinya karena masalah kualitas, lalu bagaimana dengan kualitas universitas-universitas muda yang menjamur menyediakan program ekstensi di Indonesia saat ini? Apakah justru dengan biaya yang jauh lebih murah mereka bisa menyediakan kualitas yang jauh lebih memuaskan? Bagaimana dengan para lulusan Sekolah menengah yang benar-benar rela bekerja pagi hingga sore hanya untuk mendapatkan pendidikan di level Universitas? Akankah mereka mendapatkan pendidikan yang berkualitas dengan penghasilan lulusan Sekolah menengah, yang nominalnyapun masih harus dikurangi biaya hidup.

Maka mengapakah begitu sulit untuk mendapatkan pendidikan di level universitas? Baiklah, apapun universitasnya kembali ketujuan awal belajar, mencari ilmu. Bagaimanapun kualitas yang didapat, ilmu bisa didapat darimanapun. Selagi seseorang bersedia mempelajari ilmu, dan bersemangat mencarinya, maka ia akan mendapatkan ilmu sebanyak yang ia mau.

saat orang-orangan sawah bercerita, ^_^

“Binatang apapun kau itu, rasakan kau perangkap ku!” begitulah gerutu pak tani yang kudengar saat satu per satu bagian tubuhku dibentuknya. Hari ini, akulah ide cemerlang yang pak tani temukan untuk menyelamatkan kebunnya. Ia begitu bersemangat mencari bahan-bahan untuk membuat tubuhku. Kayu, kain dan caping telah ia siapkan. Tubuhku memang hampir selesai, tapi ia masih tetap saja menggerutu mengutuki binatang yang ia sendiri belum tahu jelas binatang apa dia. Dari yang kudengar, ada jejak binatang yang telah memakan semua sayur dan buah-buahan Pak Tani di ladang. Dan akulah yang ia utus untuk menghentikan pencurian itu, katanya.

Kawan, baru aku tahu-masih dari gerutunya, ternyata rupaku memang sengaja dibentuk menyerupai tubuh manusia. Pak tani sudah membuat rencana hebat untuk menjebak si pencuri. Pak tani berharap sang pencuri akan berfikir kalau aku adalah manusia sungguhan. Sehingga ia tak akan berani lagi mencuri hasil panen Pak Tani. Iya, semoga saja ia memang terperangkap oleh aku, si orang-orangan sawah.

Aku sangat senang bisa membantu pak tani, hanya saja getah nangka yang dilumurkan Pak Tani pada tubuhku membuat aku sedikit tak nyaman. Lengket sekali rasanya. Kalau saja getah ini bukan rencana utama yang akan sangat membantu Pak Tani, tak mau aku dilumuri seluruh tubuh seperti ini.

Nah, setelah tubuhku benar-benar siap untuk dipajang di ladang, Pak tani lalu membopongku kesana. Iya kawan, kau kan tahu sendiri aku tak bisa bergerak, jadi harus ada yang mengangkutku. “Aku yakin kau akan terperangkap, binatang rakus!” Pak Tani berceloteh diperjalanan. “Kau fikir, aku tak lebih cerdik darimu, hah? Lihat saja nanti, kau akan tahu apa balasan untuk binatang yang berani mengacak-acak ladangku”. Tak tahu aku, kenapa Pak Tani begitu yakin ia akan bisa menangkap sang pencuri, padahal mungkin saja kan kalo dia tidak akan pernah mendekati ladang Pak Tani lagi, jika aku sudah berdiri mematung di ladangnya itu. Iya kan?

Dan setelah beberapa saat Pak Tani meninggalkanku diladang dan berpesan, memohon lebih tepatnya agar aku bisa mengelabui sang pencuri, datang seekor binatang mendekatiku. Mulanya ia meminta maaf padaku. Ya, berhasil ternyata membuat dia percaya bahwa aku ini juga manusia. “Pak Tani, kancil minta maaf karena telah merusak ladang Bapak. Kancil tidak bermaksud untuk membuat Pak Tani rugi. Kancil hanya lapar, dan kemudian menemukan ladang milik Bapak. Bapak mau kan memaafkan kancil?” jelasnya. Barulah dari situ aku tahu kalau ia itu ialah si kancil, sang pencuri hasil panen Pak Tani. Namun apalah mau dikata, aku kan bukan benda hidup yang bisa berbicara. Sebenarnya aku ingin sekali berbicara dengannya, menanyakan bagaimana ia bisa mencuri buah-buahan dan sayuran Pak tani hingga ia murka seperti itu. Namun aku hanya bisa diam, mendengarkan permintaan maafnya yang semakin lama, semakin berubah menjadi amarah. Ia berteriak-teriak mengelilingiku, masih tetap dengan tujuan agar aku mau menjawab pertanyaannya. Hingga pada puncak celotehnya ia kesal bukan kepalang. “Heh, Pak Tani menyebalkan, kenapa tak menjawab pertanyaanku? Aku kan sudah minta maaf dan menjelaskan kenapa aku mencuri diladangmu?” Aku tetap tak menjawab. Tiba-tiba “Buukkkkk” ia memukulku dengan tangan kanannya dan tak bisa dilepas karena lengket. Efek getah nangka, kawan. Kini ia makin kesal dan, “Buukkkkk, aghrr kenapa nempel lagi” teriak kancil. “Kau memang keterlaluan ya Pak Tani, aku masih punya kaki untuk membuatmu bicara, Buuuk” kancil menyerah setelah tendangannya juga tak bisa ia lepas dari tubuhku.

Ternyata rencana Pak Tani berhasil dengan bantuanku. Senja tiba, Pak Tani melihat ke ladang dan betapa girangnya ia ketika menemukan si pencuri telah ditemukan. Ia sempat berdialog dengan si kancil. “Oh, ternyata kaulah pencurinya, kancil.” Katanya sumringah. “Sudah kubilang, secerdik apapun kau, akan masih tetap cerdik aku bukan?” dengan nada yang tambah sombong. Kancil tak mau menjawab, hanya berekspresi memelas, memohon agar ia dibebaskan. Dalam diamnya dan hanya aku yang mengerti dari cerita panjangnya tadi, ia mencoba mengekspresikan bahwa ia tak ingin mencuri kalau ia tak kelaparan. Dulu ia berhasil lari dari ancaman kebakaran hutan dan tersesat di kebun Pak Tani. Sialnya Pak Tani tak sedikitpun bersimpati pada si kancil, ia tetap membawa si kancil pulang ke rumahnya.

Dan aku? Tetap ia tinggalkan disawah, dengan berbisik ia berkata “Kau tetap sajalah disini, jaga ladang ku ini agar tak ada lagi binatang yang berani mengacak-ngacak hasil panenku!”. Aku tak bisa melawan perintahnya sekalipun rasa ingin tahuku tentang bagaimana nasib si kancil selanjutnya begitu besar. Maka, hingga itu lah yang aku tahu, ya semoga saja si kancil mendapat pelajaran dari pengalaman buruknya tertangkap Pak Tani ini. Memang dalam keadaan apapun kita tak boleh menjadikan seburuk-buruknya keadaan sebagai alasan untuk berbuat tak baik. Yang tak adil tetaplah tak adil sekalipun dilakukan untuk kebaikan.