Rabu, 07 Desember 2011

Ketika Keyakinan saya dipertanyakan


Sempat terbesit rasa kesal karena lagi-lagi harus dipertanyakan dan dipojokkan, kenapa masih harus diragukan? Kepercayaan dan keyakinan adalah hal yang sebelumnya saya fikir sangat pribadi dan memunculkan perdebatan ketika diperbincangkan. Namun keadaan malah berbalik, justru topik itulah yang harus didiskusikan karena ia menjadi satu-satunya topik yang fokus dipelajari dalam mata kuliah humanistik yang saya ambil. Beberapa pertemuan kami membahas mengenai keberagaman dalam berkeyakinan di negeri tercinta ini. Begitu banyak cerita yang didengar dan didiskusikan, terlarut dalam keberagaman yang terasa indah memang, namun akhirnya tibalah saya pada sebuah pertanyaan yang harus saya jawab, “Do you believe in God?”.  Respon cepat dan langsung berucap, “Yes, I do”. Segala puji bagi Allah, tuhan semesta alam.
 Ketika berbicara mengenai agama dan Tuhan, diperlukan beberapa kemampuan yakni ilmu yang cukup mengenai agama dan Tuhan yang diyakini, juga kemampuan menyampaikan pendapat dengan sopan serta santun namun juga provokatif. Terkadang sulit menyatukan kedua hal tersebut dalam sebuah diskusi, hingga akhirnya berbagai pertanyaan mengenai keberadaan Tuhan yang sebelumnya menggelitik berubah menjadi menyesakkan. Freud berpendapat bahwa semakin banyak pertanyaan mengapa kita mempercayai Tuhan, maka akan semakin menimbulkan rasa ingin tahu yang berujung pada semakin tinggi tingkat keyakinan seseorang terhadap Tuhan tersebut (red. Semoga). Saya juga cukup menyadari bahwa proses ini adalah proses dimana saya sedang distimulus untuk mencari tahu jauh lebih dalam dan agar semakin memahami konsep keyakinan itu sendiri. Namun saya tidak sepaham dengan Emile Durkheim ketika ia mengatakan bahwa agama bergantung pada masyarakat sebagai pegikutnya serta pada ritual-ritual yang dilaksanakan, yang secara sederhana ia menyatakan bahwa agama adalah bagian dari budaya. Saya sebagai umat beragama yang jelas-jelas meyakini akan adanya suatu Dzat yang maha kuasa yang menciptakan alam semesta beserta isinya ini, tidak dapat menerima bahwa Agama dikatakan sebagai sesuatu yang turun temurun dan dibentuk sendiri oleh manusia yakni dengan membentuk dan menjalankan berbagai ritual. Saya tidak dapat begitu saja melepaskan keyakinan saya ketika harus mempelajari keberagaman keyakinan. Saya cukup mampu bertoleran dan menghargai perbedaan keyakinan dengan tidak selalu menunjukan bahwa agama saya yang paling benar—sekalipun saya percaya itu—namun saya tidak dapat berperilaku bahkan hanya sekedar berpandangan yang sifatnya sementara sekalipun, bahwa agama bukan berasal dari Tuhan. Bagi saya Agama adalah cara manusia memvisualisasikan keyakinannya terhadap Tuhan kedalam sebuah kata, yang ternyata dalam kehidupannya tidak semua orang berkeyakinan sama dengannya. Agama adalah cara manusia mengeneralisasikan suatu konteks yang sama namun ternyata dalam jalan dan bentuk yang tidak semua sama bagi orang-orang di kehidupannya. Saya mengakui saya adalah orang yang masih belajar dan bukanlah seseorang yang ahli dalam sejarah agama saya, namun saya juga bukan seorang filsuf yang berkewajiban untuk selalu bertanya, seperti yang dikatakan Saras Dewi. Saya hanyalah seorang yang ingin menjadi tenaga pendidik yang sedang mempelajari mata kualiah Humanistik—lebih spesifik lagi mata kuliah mengenai agama. Setiap profesi memiliki spesifikasi keahliannya masing-masing. Sehingga berkeyakinan bukanlah hal yang salah bagi saya untuk tetap dipegang normanya dalam setiap langkah berfikir, juga dengan tetap bertoleran terhadap sesama. Kehidupan terlalu indah jika sekedar untuk dipertanyakan.

Rabu, 02 November 2011

Identitasku diantara kalian


Setiap orang memiliki keunikannya masing-masing dan dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya lah, individu menjadi berbeda satu sama lain. Setiap ciri khas dan hal-hal mendasar yang membedakan satu individu dengan individu lain, yang juga mampu menggambarkan diri dan pribadi individu-individu tersebut menjadi deskripsi tak tertulis yang dapat dijadikan acuan individu lain dalam berinteraksi di lingkungan yang mereka tempati. Kecenderungan untuk diakui sudah menjadi hal lumrah bagi setiap orang yang berbaur pada suatu lingkungan, tak ada satupun orang yang hanya ingin berperan sebagai pemerhati dan tidak memiliki kemauan untuk dikenal bahkan diakui keberadaannya. Maka dengan setiap keunikannya setiap orang berusaha untuk dikenali, diakui dan dihargai dengan berbagai upaya yang dapat dilakukan agar peranannya terhadap lingkungan dapat dirasakan oleh orang-orang disekitarnya. Salah satu contoh upaya tersebut adalah dengan berkontribusi dalam kegiatan –kegiatan yang mengusung kepentingan-kepentingan bersama, yang tujuannya tak lain adalah untuk menunjukan bahwa saya ada disekitar anda dan memiliki peran dalam kehidupan bermasyarakat.
Ada banyak hal yang bisa dijadikan ciri khas yang nantinya merujuk dan berujung pada identitas seseorang, namun tidak setiap individu di lingkungan yang ditempati juga mampu mengenali dan mengetahui keseluruhan identitas tersebut. Setiap individu lain memiliki pandangannya masing-masing terhadap diri kita sendiri sehingga belum dapat dipastikan bahwa apa yang kita anggap sebagai ciri khas dari diri kita juga dapat ditangkap oleh mereka sebagai identitas kita. Saya dengan berbagai keunikan yang saya miliki sehingga orang mampu membedakan saya dengan individu lain adalah hasil dari pendeskripsian tidak langsung yang telah saya lakukan baik dengan menunjukan perilaku saya ketika berinteraksi maupun karena identitas mendasar seperti gender, suku, agama dan hal lain yan mampu secara langsung orang ketahui dan terima sebagai identitas saya.
Bagaimana cara orang lain memandang saya, mengakui keberadaan saya, mengenali sifat dan karakter saya dan menentukan peran saya dalam kehidupannya mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi mereka dalam berinterikasi baik ketika berperilaku, bersikap, bertindak dan mengambil keputusan penting yang berhubungan dengan kepentingan bersama. Setiap kepentingan dan persoalan tersebut akan menstimulus orang lain untuk menggunakan pengetahuannya mengenai identitas seseorang yang pada kenyataanya tidaklah dijabarkan dengan satu ciri khas. Konteks mempengaruhi seseorang dalam memutuskan identitas yang mana yang sedang dibutuhkan untuk digunakan dalam mengambil keputusan. Contoh ketika topik yang dibahas adalah kesetaraan gender maka identitas yang digunakan adalah saya sebagai perempuan dalam menanggapi permasalahan tersebut. Namun berbeda ketika persoalannya yaitu mengenai proses pemilihan kepemimpinan, maka identitas saya yang akan dijadikan pertimbangan bukanlah sebatas gender, agama atau suku lagi, namun akan lebih pada kemampuan saya dalam memimpin, karakter saya, kemampuan dan pengalaman berorganisasi serta pengakuan terhadap keberadaan saya dan pandangan individu lain tentang kepantasan saya menjadi seorang pemimpin. Sehingga rangkaian identitas seseorang yang dikenal dilingkungannya tidaklah digunakan setiap saat dan tidak dalam setiap persoalan yang dihadapi. Namun pada kenyataanya setiap orang berhak menilai dan membangun deskripsi mengenai pribadi orang lain dan membangunnya menjadi identitas yang kita akui.

Minggu, 30 Oktober 2011

My Reflection of School Experience in the 3rd semester


Well, teaching assistant program has been ended for this semester, and it’s time to reflect every moment that was exceedingly unexpected. Actually, I spent my time for two weeks for attending to MAN 11 Jakarta but it was a short time for me to be acquainted with all of students there. I only remember some of their names and I’m still in the process to acquaint what is their learning style but suddenly I have to come back to my university. It makes me little bit feel guilty because I think I just started to introduce some new methods in teaching to them and they was started to adapt with it, but it doesn’t take a long time and they should readapt to back to their usual methods.
By suggestion from my lecturer counselor, we should assist some teachers so that we should teach some different classes in MAN 11 Jakarta. I’m glad about that because I can learn more about those students but I feel I didn’t give my best performance even it has been my maximum efforts to provide an effective learning process. I got chance to teach 11th grade in two classes of science and a class of social. I found that generally students in those three classes are really different although they are as usually as taught by Teacher Centered Learning. I think it was really nice to meet Social students at the first time because they likely try to respect to me but when I taught them by using Student Centered Learning method, some of them didn’t give a positive response. Grouping didn’t work for them because the discussion was not done well.
In the first Science Class, I was surprised because it was little bit different, the discussion was better implemented because most of students doing the discussion to solve the problems. Although they looked like getting to adapt to study by using Student Centered Learning method that my team provided, but I have not found that they feel comfortable to learn with us. They looked like to hardly study with high enthusiasm. Actually the best part of these teaching experiences is when I taught another Science Class. I am very thankful because my team got a positive response from those students. They can learn very well, do the activity enthusiastic, and all of methods that we provided as always we learned in SSE was implemented very well. Moreover, I am so glad because in fact the teaching aids that was designed by my team of TPTLM course which is BFG, is really can be applied in the real school.
In the second week, my team got a chance to interview our master teacher for giving some questions to know more about their teaching process and also to clarify the observation result that we get previously. By interviewing him I get that there are correlation between the observation result and what is he said. He said that he has been a teacher for many years and getting bored. Actually he has surely known what will be taught to his students so that he thinks he doesn’t need the lesson plan anymore. In fact, when we observed him we found that the teaching process was not really well organized because he didn’t manage his students to do the learning activity orderly. We also found that some students were busy with their activity which is chatting with another.
Actually I don’t agree with my master teachers’ opinion, lesson plan is used to help us in providing an effective learning activity for students. World changes every time and also the generation of our students, there will always a new development in every sector especially in technology. I think in order to provide the effective teaching and assessment for our sophisticated technology students we should provide a creative one, so that they will be interested to learn with us. Hence, for becoming a teacher even for many years later, I think it will be challenging because I should be creative and innovative in providing the learning activity.

Besides that from this teaching assistant program, I also realize that there are some points that have to be given more attention to create an effective teaching and assessment which are the prior knowledge, students’ needs, students’ learning style and students’ background. The successful learning process is affected by students’ prior knowledge that can make the process easier if the students really acquaint the previous material. Besides that by understanding students’ needs, students’ learning style and students’ background, we could provide the effective learning and teaching process for them by using the appropriate methods.

Rabu, 12 Oktober 2011

'Arithmetic Sequence and Series' are happening here !!


Hello, Students.
Welcome to our educational blog.


First, I would like to say congratulations to you because this is our first session of online learning. Actually I am not be able to provide the teaching process in the classroom so we will learn via this blog.


Today, we are going to learn about Arithmetic Sequence and Series, so prepare your self to do some activities below (hopefully. you got the interesting one)^^



Actually, at the end of this course you are expected to be able :

1.    Determine the nth term of Arithmetic Sequence
2.    Determine the total of all term in an Arithmetic Sequence
3.    Construct mathematical model to represent the pattern of Arithmetic Sequence and Series
4.   Solves any real life problems which are related towards Arithmetic Sequence and Series


Hence, for being expert of this topic, I suggest you to read some resources below.
this is the first, the second one and the last one OR you just read this one.

Then, after you mastered the concept, please try to solve some exercises in this link, find the exercises of NUMBER SEQUENCE and solve about the Arithmetic one.

Besides that, all of you are expected to do a project by working in a group. Make your own group of four and please refer to this instruction which will guide you how to solve the problem in that project. Please send your report to my email susidariah@gmail.com at least 5 minutes before this midnight which is at 23.55 today



Good Luck !!
Sincerely,
Your Teacher




Rabu, 05 Oktober 2011

Educational Blog

Today, Technology is always around us. It is felt closely enough and much needed for helping our easier life. In many case, we always use technology. For instance, in educational activity using technology is happening in many schools and university. Both in teaching and learning process or the assessment, it is often use technology. For instance, computer, I think it is one of technologies which is a must and much needed for every school. Because it is very help our activity in teaching and learning process, such as we are helped in making report faster than manually, making more interesting presentation when transferring knowledge to students and others examples. Moreover, now there is the internet that also facilitates us to search any information that we want to know. Besides that, it is often help us to communicate easier than before through email, social networking and others. Internet also allows us to do teaching and learning process without being at the same place.

By using internet, we can access any program that is provided for us to make the online learning. Blog which is part of web 2.0 is the example. Blog can be used to communicate in online learning. Sharing any information, transferring knowledge, giving instruction, assessing students’ task and others activity that can be done through blog. Using blog as educational media can make the interesting learning process. As a teacher candidate, we should be creative in providing teaching activity so that we are getting easier to engage students in learning process. We know that students that we will face later are the sophisticated technology students, but we should consider that they also have to do bodily activity which allows their body to grow. Moreover there are some students whose intelligence is bodily kinesthetic, so that they are easier to learn when they do the activity which include their body. Hence, we can ask students to do the outdoor activity although the instructions are given through blog. I think the better learning environment is not only using technology in the process but the best one is when we can use technology optimally and also being sensitive that students also should develop their social skills and bodily skills.

Ternyata Indah ya, ^^

Beberapa kata yang kerap kali menggantikan dan mewakili sebuah identitas seseorang, yang dengannya saja sudah menjadi bukti atas kehadiran bahkan keikutsertaan.
Begitu kuat ia melekat pada identitas seseorang, yang hanya dengan menyebutnya saja kita sudah bisa membayangkan wujud fisik dan karakter serta sifat orang yang kita kenal itu.

Entah bagaimana awalnya hingga Nama menjadi sebuah keharusan bagi setiap orang dan tak satupun sepertinya manusia di dunia ini yang tak mempunyai nama.

Meski tak lebih dari sepuluh huruf, nama ini telah melekat dan selalu saya perkenalkan sebagai identitas saya kepada siapa saja yang baru saya kenal. Semakin lama, selama hampir 20 tahun, semakin saya bisa merasakan ruh dari nama saya sendiri, SUSI DARIAH.. ^_^

Nama yang saya rasakan semakin indah ketika semakin lama ia menemani dan menggambarkan secara sederhana semua hal rumit dalam kehidupan saya. Kehidupan yang juga dipengaruhi oleh doa yang terkandung pada nama itu. Seolah-olah doa tersebut melekat sebagai identitas tanpa harus dipaksakan. Ia dengan sendirinya menjadi bagian yang cukup penting dalam setiap perjalanan hidup.

Ketika banyak dari teman saya saat SMP dengan bangga menjelaskan betapa luhurnya arti nama yang disematkan orang tuanya, saya masih saja bingung apa sebenarnya arti dari nama saya, pun belum yakin bahwa orang tua sayalah yang memberikan nama ini pada saya.

Dan benar saja, saya semakin merasa dituntut untuk mengetahui arti nama ini sesaat setelah orang tua saya mengatakan bahwa bukan mereka yang memberi nama ini melainkan saudara jauh dari nenek. Dan kemudian neneklah yang selanjutnya menjadi sumber informasi saya. Namun lagi-lagi takdir belum mengijinkan saya untuk mengetahui arti dari nama saya. Beliau, yang telah berkenan memberikan nama ini pada saya, telah berpulang beberapa saat sebelum saya menanyakan hal itu pada nenek. Menohok memang, tapi ya sudahlah itu pertanda bahwa saya harus mencari sendiri arti nama saya, :)

Dulu, sebelum menyandang nama ini, nama saya itu SITI DARIAH. Tahu apa yang saya lakukan ketika ibu saya mengatakan hal itu?

Menelan ludah..
Lagi,
Lagi,
Dan menelan ludah lagi..
:D
Sebenarnya tak ada yang salah dengan nama itu, namun terasa begitu asing jika dua kata itu yang harus menjadi bagian kecil untuk menggambarkan karakter saya. 
Keluarga besar saya masih menganut adat dan budaya leluhurnya yaitu ketika seorang anak sering sakit dan cengeng di masa kecilnya, itu berarti nama yang diberikan harus diganti. Nah, saat itulah tiba. Nama saya berubah menjadi seperti nama saya saat ini, SUSI DARIAH. :D

Setelah perjuangan panjang mencari arti nama itu, akhirnya saya menemukan bahwa DARIAH ‘mungkin saja’ berasal dari kata DURRIYAH (bahasa arab) yang artinya cahaya mutiara. Dan karena rasa ingin tahu yang cukup kuat, saya kemudian mencari-cari alasan kenapa kira-kira saya diberikan nama SUSI yang sebelumnya SITI. Sepengetahuan saya SITI adalah nama yang biasa diberikan kepada perempuan-perempuan di jaman nabi. Nah, saya memprediksikan SUSI sebagai pengganti nama SITI, juga mempunyai arti yang berhubungan dengan perempuan. Setelah saya cari, pada tahun kelahiran saya 1991, seorang perempuan yang bernama SUSI SUSANTI sedang ada pada puncak kejayaannya. Beliau menjuarai beberapa turnamen di beberapa Negara di Asia tenggara hingga sempat di juluki Ratu Bulu Tangkis Asia Tenggara. Selain itu beliau juga berhasil menjuarai World Tournament. Saya menduga hal itu lah yang membuat saya diberikan nama SUSI, orang yang berprestasi.

Wah, sungguh indah ternyata ya nama saya (jika memang prediksi saya benar ^^). SUSI DARIAH, Wanita berprestasi layaknya cahaya mutiara. Semoga doa yang melekat pada nama saya ini, benar-benar bisa menjadi bagian dari kehidupan nyata saya. Amin. :)

What is Mathematics?

Mathematics? It was a question from my friend, when she knew I was going to take a bachelor of mathematics education. Suddenly, I got some big questions, for instances my mind asks why it has to be mathematics, there were another choice but why I chose mathematics, what actually mathematics is about. Those questions always go around in my mind. I just thought that I want to be a teacher so if this is my opportunities to be a teacher, ‘why not?’ my thought at that time.

Time is gone, more than two semester I’ve been here, in SSE, I got a briefly meanings of mathematics. I find that mathematics is not only about calculating the numbers, but in my opinion, mathematics is a language as a way to represent our mind about facts in our real life. Those facts is usually used to find, analyze, prove even to predict something by doing some calculations. By learning mathematics, we are expected to become accustomed to use our logical thinking in solving any problems. For making a reasonable conclusion, mathematics is the responsible manner that provides us to make a briefly proven.

Many discipline that involving mathematics in their process in deciding any patterns or judgments. It shows that as the modeling, mathematics can explain any complex problems in a simple way that easier to be understood. Here, I am also provided with a creative teaching process that allows me to learn mathematics from the simplifying way in transferring the concept and procedures. We are always expected to be able to connect the understanding to our real life problems. Because the assessment is usually ask our creativity to solve any real life problems that examine our deeply understanding of the concept. Blessing of God, I get the experience to learn mathematics in SSE (Sampoerna School of Education) and now I know why I choose mathematics department. That’s because of mathematics is closely related to my real life. :)

Selasa, 27 September 2011

Keberagaman yang Menyatukan

Orang bilang Jakarta itu kota metropolitan, kota yang terkenal dengan kemacetannya, kota dengan kekejaman atas ketidakpeduliannya. Namun dengan keberanian yang tak luput dari kekhawatiran, tak sedikit orang memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman hanya untuk mengecap kehidupan Ibu Kota yang menjanjikan. Begitupun saya yang saat ini sedang melanjutkan pendidikan di Ibu Kota yang megah ini. Namun setelah beberapa bulan merasai udara kota Jakarta, yang tak bisa dibilang lebih sejuk dari kota asal saya ini, tak semua kekurangan kota Jakarta yang orang ceritakan itu benar. Coba kita lihat beberapa sisi positifnya. Disini, di Kota Jakarta, begitu banyak orang yang berasal dari berbagai kota di Indonesia, yang secara tidak langsung menjadikan Kota Jakarta sebagai tempat dimana berkumpulnya adat dan budaya Indonesia. Justru karena Keberagaman yang banyak dibawa oleh orang-orang yang berurbanisasi ke Kota Jakarta, kita bisa menemui dan mempelajari berbagai adat dan budaya Indonesia yang beraneka ragam hanya dalam satu kota.

Menemui banyak orang dengan latar belakang adat budaya yang berbeda memerlukan proses adaptasi yang ternyata menguji kemampuan bersosialisasi saya. Ada banyak kebiasaan yang tak sepenuhnya sama. Namun berada di kampus dengan teman yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia merupakan kesempatan luar biasa yang selalu saya syukuri. Memang tak dapat dipungkiri bahwa toleransi terhadap setiap perbedaan sangatlah dibutuhkan. Perbedaan kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan dalam berinterkasipun menuntut saya untuk selalu mengenali dan mempelajari bagaimana sebaiknya memberikan tanggapan terhadap setiap perbedaan tersebut. Salah satu perbedaan kebiasaan semisal dalam hal bercanda yang terkesan kecil dan sepele itu, terkadang membawa dampak yang cukup berarti pada hubungan antarindividu. Yang berbeda bukanlah rasa humor antara satu orang dengan yang lainnya, namun lebih pada bagaimana setiap orang memiliki cara penyampaian candaannya masing-masing. Tak jarang saya temui, ketika salah satu teman memiliki kebiasaan bercanda dengan cara mencela penampilan atau kesalahan orang lain, sedang rekannya tersebut sedang dalam keadaan yang tidak cocok untuk diajak bercanda. Lalu kemudian terjadilah kesalahpahaman diantara keduanya. Sang pemberi candaan menuntut orang yang ia ajak bercanda untuk mengerti dan memahami bahwa hal yang tadi ia lakukan hanya semata-mata guyonan yang sama sekali tidak disertai niat untuk menghina, namun si penerima guyonan bersikukuh bahwa ia tidak dapat menerima gaya bercanda yang menurutnya tidak mengindahkan kesopanan tersebut.

Selain kepribadian seseorang, lingkunganpun akan mempengaruhi gaya berinteraksi seseorang termasuk dalam hal bercanda. Perbedaan kultur dan kebiasaan memberikan kecenderungan kepada seseorang dalam menentukan batasan atas hal-hal yang dianggap patut dan hal-hal mana saja yang telah melewati garis kesopanan. Kedua perspektif yang masing-masing memiliki argumennya dalam menanggapi kesalahpahaman tersebut bisa jadi benar, namun sekali lagi toleransi diperlukan dalam menghadapi keberagaman ini. Pelajaran itulah yang membuat saya berusaha untuk selalu berhati-hati dalam menyampaikan candaan ataupun argumen ketika berdiskusi. Sekalipun terkadang terasa agak ribet karena harus mengenali dan mempelajari kebiasaan teman dalam berinteraksi namun hal itulah yang membuat saya senang berada di kampus. Ketika semua keberagaman dinikmati dan dimaklumi, selalu ada jalan dalam mengoptimalkan potensi yang ada. Kami tidak akan kehabisan ide justru karena keberagaman yang kami punya. Kami tidak akan kehabisan topik untuk berdiskusi, justru karena perbedaan yang kami miliki. Rasa kekeluargaan yang perlu terus ditingkatkan semoga menjadi penguat toleransi pada setiap kesalahpahaman yang ada. Keberagaman bukanlah sesuatu yang memecahkan namun menyatukan. Disini, di Kota tempat para pemimpin bangsa biasa berdiskusi, saya menemukan keluarga baru dan juga kebahagiaan atas keberagaman yang kami miliki.

Senin, 15 Agustus 2011

untuk para pecinta negeriku !!

Wahai para pejuang kemerdekaan bangsaku, ingin sekali rasanya berdialog dengan mu.
Ingin kulontarkan beribu pertanyaan, tentang negeriku pada jamanmu, tentang kesetiaanmu pada bangsaku
Apakah lelah hidupmu saat itu?
Saat dimana engkau berjuang bagi negerimu?
Saat dimana engkau direndahkan karena leluhurmu? Karena leluhurmu yang tidak berilmu pengetahuan setinggi orang-orang pada jamannya.
Bagaimana rasanya?? wahai para pejuang kemajuan negeriku..
Rasa ketika harus menghormati mereka yang bersepatu??
Rasa ketika tanah milik mu disewakan pada sang pengeruk kekayaan negerimu??
Rasa ketika kerakusan mengelilingi kehidupan pencaharianmu???

Duhai para pemuda yang darahnya tercecer membela bangsaku,,
Seberapa geramkah engkau ketika melihat para pencuri itu memperlakukan kaum mu semena-mena??
Seberapa geramkah rasanya?
Sama kah dengan kegeraman kami ketika melihat para pemimpin kami yang terlena menikmati keindahan sebuah amanah???

Duhai para ayah yang setiap nafasnya hanya untuk membela negeriku,
Seberapa sakitkah engkau melihat para pengkhianat bangsa itu, merampas hartamu demi mereka yang menyediakan kekuasaan baginya??
Seberapa sakitkah rasanya?
Sama kah dengan sakit yang kami rasakan saat ini, ketika kami melihat para pemimpin kami yang belum dpat menjaga amanah dari kami??

Namun,
Tak usah lah berkecil hati, wahai para pendiri negeriku,
Kami disini tak berdiam diri,
Kami sedang dan akan selalu berusaha,
Janganlah anggap saat ini telah habis orang yang mengingat jasamu,
Jangganlah anggap tak ada lagi yang mencintai negerimu seperti kau mencintai nya,
Kami masih disini para pahlawanku,
Kami sedang berusaha,
masih berusaha menjadi seorang yang berani seperti mu
Kami masih mencari ilmu, saudaraku..
Kami masih belajar, belajar untuk terpelajar
Hingga kami paham betul apa yang bangsa kita sedang butuhkan
Bukankah dulu, kaum terpelajar yang mencetuskan tekad untuk membela bangsamu??
Maka, kami akan terpelajar seperti mereka yang peka terhadap bangsanya.
Beristirahatlah, wahai pelopor kegigihan pejuang bangsaku
Akan kusampaikan pada para penerus bangsamu,
Agar kami juga terpelajar sepertimu, agar kami membela bangsamu, agar kami menjaga kemerdekaan yang telah kau perjuangkan.

Jumat, 22 April 2011

Nurani ku berkata dari perspektif yang selama ini kusalahkan

Memang siapa yang patut disalahkan kalau kami dilahirkan dari keluarga yang tak terdidik, tak berpenghasilan banyak pula. Lalu apa masih kami yang harus disalahkan jika kami tak mau bersekolah? Kami takut, takut menjadi orang cerdas yang nantinya penuh pertimbangan dalam mengambil keputusan, hingga yang benar dan salah menjadi bias bagi kami..
Sungguh kami ketakutan jika kami berusaha untuk menjadi cerdas, Kami sendirilah yang akan tergerus jaman dan terbirit lari ke gubuk kami lagi. Lihatlah dari sudut pandang kami, mengapakah anda-anda selalu menyalahkan kami yang tak punya tekad untuk maju? Mengapakah anda fikir kami tak mau berubah? Seharusnya anda sudah tahu, pemikiran kami tak sejauh dan setinggi pemikiran yang anda punya. Mungkin kami hanya menjalani peran yang memang seharusnya ada di bumi ini. Jika tak ada orang yang tak cerdas, dan tak mempunyai keberanian untuk melawan nasib seperti kami. Lantas siapa yang akan membangun rumah anda? Siapa yang akan memperbaiki septic tank anda jika rusak? Lalu siapa yang akan memberikan suara dengan mudah hanya karena diberikan sedikit beras dan mie pada pemilihan para pemimpin anda sekarang? Lantas anda selalu berkata bahwa seseorang yang berhasil ialah orang yang cerdas yang mau mengusahakan hidupnya? Sudahlah jalani hidup anda, teruskan usaha anda untuk mengubah dunia!
Pesan kami,
nanti ketika anda sudah berhasil membangun kehidupan yang nyaman, maka janganlah lupa untuk membangun juga tempat bagi kami. Sederhana sajalah, yang penting kami bisa menjalani peran kami di bumi kita ini, kami hanya ingin menjalani hidup bersama kalian dengan bahagia.

Jumat, 15 April 2011

Bekerja untuk Kuliah??? Lho?!!

“Kuliah juga tujuan akhir nya kerja kan?” sering rasanya mendengar opini publik seperti itu, menggelitik dan sangat terkesan merendahkan makna belajar yang luhur bukan? Atau apa benar tak banyak orang yang sadar apa esensi utama dari kuliah itu? Besar harapan jawabannya adalah tidak. Namun jika iya, akan jadi seperti apa potret pendidikan di Negara kita tercinta ini? Maka cukup pantaslah bagi mahasiswa dan calon mahasiswa untuk memahami tujuan utama dari kuliah dan belajar, yaitu tak lain ialah untuk mencari ilmu, keahlian, dan keterampilan..

Namun, pada kenyataannya tak semua orang punya kesempatan untuk merasakan bangku kuliah dan mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Sehingga tak bisa dipungkiri opini publik diatas bisa jadi berbalik. Bagi mereka yang tak berkesempatan merasakan bangku kuliah regular, besar kemungkinan mereka untuk mencari pekerjaan terlebih dahulu. Sayangnya kenyataan di Indonesia saat ini, kesempatan kerja yang menjanjikan hanyalah ditujukan bagi orang yang merasakan bangku kuliah, dengan kata lain orang-orang yang telah mendapat gelar S1 atau minimal D3. Seperti bisa dilihat di beberapa Koran atau Situs di Internet yang menyediakan informasi lowongan kerja, kebanyakan kesempatan untuk posisi yang cukup tinggi itu ditujukan untuk lulusan Universitas bukan Sekolah Menengah. Persyaratan tersebut sangatlah membatasi mereka yang belum sempat merasakan bangku kuliah namun memiliki kemampuan yang cukup bisa diandalkan. Belum sempat beradu kemampuan, mereka harus tersisih oleh persyaratan registrasi. Adilkah? Sudah pasti tidak.

Jelaslah tak adil bagi mereka yang mempunyai kemampuan tapi belum mendapatkan kesempatan untuk duduk dibangku kuliah. Memang masih terasa kental sekali bahwa orientasi perusahaan-perusahaan di Indonesia saat ini masih pada gelar yang menurut mereka menjamin kemampuan seseorang. Oleh karena itu, bagi mereka yang belum mendapatkan gelar, haruslah mereka rela mengajukan lamaran untuk posisi yang lebih rendah daripada mereka yang sudah mendapat gelar sarjana.
Melihat kenyataan bahwa untuk melanjutkan pendidikan ke universtias banyak dari lulusan Sekolah Menengah yang terhalangi oleh biaya sedangkan untuk bekerja pada posisi yang tinggipun memerlukan gelar terlebihdahulu sebagai jaminan profesionalitas bagi perusahaan. Maka sudah tepat bagi mereka untuk memilih bekerja sebagai solusinya. Bahkan tak sedikit dari mereka yang memutuskan untuk mengambil kelas ekstensi hanya agar dapat merasakan bangku kuliah. Cukuplah untuk mematahkan opini publik yang menjudge bahwa kuliah hanya semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan. Karena ternyata, ada mahasiswa kelas ekstensi yang menjadikan pekerjaan sebagai alat baginya untuk mendapatkan kuliah yang berkualitas.

Lho, bekerja untuk kuliah? Ya, bekerja agar mendapat penghasilan untuk membiayai kuliah. Demi mendapatkan pendidikan, bekerja di siang hari dan kemudian tetap bersemangat mencari ilmu dimalam hari. Efektifkah cara belajar macam itu? Tergantung. Tergantung seberapa besar kemauan mahasiswa untuk mendapatkan pengetahuan dari proses belajar itu sendiri. Jikalah gelar cukup menjadi tujuan utama, maka proses belajarpun hanya jadi sebatas rangkaian persyaratan untuk bisa mendapatkan gelar. Namun, bagi orang yang benar-benar berorientasi pada ilmu dan memiliki semangat yang tinggi, rasa lelah setelah menjalani seabrek aktivitas dikantor pada siang hingga senja haripun tak akan terasa lagi. Yang menjadi persoalannya ialah, apakah semangat mendapatkan ilmu tersebut juga terfasilitasi oleh kualitas kampus yang menyediakan kelas ekstensi? Semoga iya, karena tentu tak adil bagi mereka yang bekerja membanting tulang hanya agar bisa merasakan bangku kuliah dan belajar demi mendapatkan ilmu, namun kemudian harus mendapati fakta bahwa kualitas belajar yang mereka terima tak sebanding dengan pengorbanan mereka untuk mendapatkannya.

Di Indonesia sendiri, banyak sekali universitas-universitas yang menyediakan kelas ekstensi. Tak hanya universitas swasta, univesitas negeripun ada yang menyediakan kelas ekstensi. UNPAD, UI dan UGM pun sempat menyediakan kelas ekstensi. Namun faktanya pada tahun 2009, UGM telah menutup program ekstensinya, sedangkan ekstensi UI rumornya pun akan ditutup. Adapun alasan utama ditutupnya program ekstensi di UGM ialah karena universitas ingin meningkatkan mutu pendidikan. Semenjak UGM membuka kelas ekstensi peringkatnya sebagai universitas berkualitas pun menurun.
Nah? Bagaimana sebenarnya kualitas dari program ekstensi yang disediakan oleh UGM, sehingga bisa menyebabkan penurunan penilaian terhadap mutu pendidikan? Jika lah universitas sebesar itupun, dapat menutup program ekstensinya karena masalah kualitas, lalu bagaimana dengan kualitas universitas-universitas muda yang menjamur menyediakan program ekstensi di Indonesia saat ini? Apakah justru dengan biaya yang jauh lebih murah mereka bisa menyediakan kualitas yang jauh lebih memuaskan? Bagaimana dengan para lulusan Sekolah menengah yang benar-benar rela bekerja pagi hingga sore hanya untuk mendapatkan pendidikan di level Universitas? Akankah mereka mendapatkan pendidikan yang berkualitas dengan penghasilan lulusan Sekolah menengah, yang nominalnyapun masih harus dikurangi biaya hidup.

Maka mengapakah begitu sulit untuk mendapatkan pendidikan di level universitas? Baiklah, apapun universitasnya kembali ketujuan awal belajar, mencari ilmu. Bagaimanapun kualitas yang didapat, ilmu bisa didapat darimanapun. Selagi seseorang bersedia mempelajari ilmu, dan bersemangat mencarinya, maka ia akan mendapatkan ilmu sebanyak yang ia mau.

saat orang-orangan sawah bercerita, ^_^

“Binatang apapun kau itu, rasakan kau perangkap ku!” begitulah gerutu pak tani yang kudengar saat satu per satu bagian tubuhku dibentuknya. Hari ini, akulah ide cemerlang yang pak tani temukan untuk menyelamatkan kebunnya. Ia begitu bersemangat mencari bahan-bahan untuk membuat tubuhku. Kayu, kain dan caping telah ia siapkan. Tubuhku memang hampir selesai, tapi ia masih tetap saja menggerutu mengutuki binatang yang ia sendiri belum tahu jelas binatang apa dia. Dari yang kudengar, ada jejak binatang yang telah memakan semua sayur dan buah-buahan Pak Tani di ladang. Dan akulah yang ia utus untuk menghentikan pencurian itu, katanya.

Kawan, baru aku tahu-masih dari gerutunya, ternyata rupaku memang sengaja dibentuk menyerupai tubuh manusia. Pak tani sudah membuat rencana hebat untuk menjebak si pencuri. Pak tani berharap sang pencuri akan berfikir kalau aku adalah manusia sungguhan. Sehingga ia tak akan berani lagi mencuri hasil panen Pak Tani. Iya, semoga saja ia memang terperangkap oleh aku, si orang-orangan sawah.

Aku sangat senang bisa membantu pak tani, hanya saja getah nangka yang dilumurkan Pak Tani pada tubuhku membuat aku sedikit tak nyaman. Lengket sekali rasanya. Kalau saja getah ini bukan rencana utama yang akan sangat membantu Pak Tani, tak mau aku dilumuri seluruh tubuh seperti ini.

Nah, setelah tubuhku benar-benar siap untuk dipajang di ladang, Pak tani lalu membopongku kesana. Iya kawan, kau kan tahu sendiri aku tak bisa bergerak, jadi harus ada yang mengangkutku. “Aku yakin kau akan terperangkap, binatang rakus!” Pak Tani berceloteh diperjalanan. “Kau fikir, aku tak lebih cerdik darimu, hah? Lihat saja nanti, kau akan tahu apa balasan untuk binatang yang berani mengacak-acak ladangku”. Tak tahu aku, kenapa Pak Tani begitu yakin ia akan bisa menangkap sang pencuri, padahal mungkin saja kan kalo dia tidak akan pernah mendekati ladang Pak Tani lagi, jika aku sudah berdiri mematung di ladangnya itu. Iya kan?

Dan setelah beberapa saat Pak Tani meninggalkanku diladang dan berpesan, memohon lebih tepatnya agar aku bisa mengelabui sang pencuri, datang seekor binatang mendekatiku. Mulanya ia meminta maaf padaku. Ya, berhasil ternyata membuat dia percaya bahwa aku ini juga manusia. “Pak Tani, kancil minta maaf karena telah merusak ladang Bapak. Kancil tidak bermaksud untuk membuat Pak Tani rugi. Kancil hanya lapar, dan kemudian menemukan ladang milik Bapak. Bapak mau kan memaafkan kancil?” jelasnya. Barulah dari situ aku tahu kalau ia itu ialah si kancil, sang pencuri hasil panen Pak Tani. Namun apalah mau dikata, aku kan bukan benda hidup yang bisa berbicara. Sebenarnya aku ingin sekali berbicara dengannya, menanyakan bagaimana ia bisa mencuri buah-buahan dan sayuran Pak tani hingga ia murka seperti itu. Namun aku hanya bisa diam, mendengarkan permintaan maafnya yang semakin lama, semakin berubah menjadi amarah. Ia berteriak-teriak mengelilingiku, masih tetap dengan tujuan agar aku mau menjawab pertanyaannya. Hingga pada puncak celotehnya ia kesal bukan kepalang. “Heh, Pak Tani menyebalkan, kenapa tak menjawab pertanyaanku? Aku kan sudah minta maaf dan menjelaskan kenapa aku mencuri diladangmu?” Aku tetap tak menjawab. Tiba-tiba “Buukkkkk” ia memukulku dengan tangan kanannya dan tak bisa dilepas karena lengket. Efek getah nangka, kawan. Kini ia makin kesal dan, “Buukkkkk, aghrr kenapa nempel lagi” teriak kancil. “Kau memang keterlaluan ya Pak Tani, aku masih punya kaki untuk membuatmu bicara, Buuuk” kancil menyerah setelah tendangannya juga tak bisa ia lepas dari tubuhku.

Ternyata rencana Pak Tani berhasil dengan bantuanku. Senja tiba, Pak Tani melihat ke ladang dan betapa girangnya ia ketika menemukan si pencuri telah ditemukan. Ia sempat berdialog dengan si kancil. “Oh, ternyata kaulah pencurinya, kancil.” Katanya sumringah. “Sudah kubilang, secerdik apapun kau, akan masih tetap cerdik aku bukan?” dengan nada yang tambah sombong. Kancil tak mau menjawab, hanya berekspresi memelas, memohon agar ia dibebaskan. Dalam diamnya dan hanya aku yang mengerti dari cerita panjangnya tadi, ia mencoba mengekspresikan bahwa ia tak ingin mencuri kalau ia tak kelaparan. Dulu ia berhasil lari dari ancaman kebakaran hutan dan tersesat di kebun Pak Tani. Sialnya Pak Tani tak sedikitpun bersimpati pada si kancil, ia tetap membawa si kancil pulang ke rumahnya.

Dan aku? Tetap ia tinggalkan disawah, dengan berbisik ia berkata “Kau tetap sajalah disini, jaga ladang ku ini agar tak ada lagi binatang yang berani mengacak-ngacak hasil panenku!”. Aku tak bisa melawan perintahnya sekalipun rasa ingin tahuku tentang bagaimana nasib si kancil selanjutnya begitu besar. Maka, hingga itu lah yang aku tahu, ya semoga saja si kancil mendapat pelajaran dari pengalaman buruknya tertangkap Pak Tani ini. Memang dalam keadaan apapun kita tak boleh menjadikan seburuk-buruknya keadaan sebagai alasan untuk berbuat tak baik. Yang tak adil tetaplah tak adil sekalipun dilakukan untuk kebaikan.

Sabtu, 05 Maret 2011

dampak liburan !!!!!

nyesel,,
Bener kata orang penyesalan ga akan datang di awal tapi pasti d akhir,,
Di akhir semua tindakan dan perilaku kita yang ga sesuai dengan janji kita sendiri..
Semuanya terjadi gitu z, terkalahkan oleh rasa egois dan nafsu untuk menikmati hari liburan,, liburan panjang itu..
Dengan sejuta kenikmatan berleha-leha dirumah, buaian acara televisi yang bikin kita ga tau waktu,, pengennya Cuma natap tipiiiii mulu..
Ga da kerjaan lain bahkan untuk bantu mamah beres2 rumah pun enggak,,
Ampunn dahhh,, segitu pemalas ny aku waktu liburan kemarin,,
Dan sekarang H-1 menuju semester 2 yang udah d wanti2 sma PA untuk belajar lebih keras karena banyak materi yang harus aku kuasai, aku baru sadar kalo kemarin aku menyia2kan waktu hanya untuk berleha, menikmati kenyamanan rasa tak terduga nya mendapat IP memuaskan,, oh tuhan,, sungguh betapa pemalas ny hamba kemarin2,,,
Setelah semua penyesalan ini,, dengan sisa waktu yang ada, semangat lah wahai susi,, waktu tak dapat diputar ,, pelajaran kemarin sangat berharga bukan???
Oleh karena nya,, all out lah d sisa waktu mu,,
Mohonlah agar Allah memberi kemudahan serta selalu membimbing mu,, agar terhindar dari rasa nyaman yang melenakan itu,,
Selalu ada kesempatan untuk orang yang mau mengakui kesalahan dan selalu semangat belajar,, so,, keep up your spirit n let’s learn the world,, ^_^

Jumat, 25 Februari 2011

untuk kalian,,

Satu kata penuh arti,,
penguat kaki dikala goyah,
penggenggam jemari dikala ragu,
pembesar hati dikala rapuh,
pengingat sikap dikala jenuh,
peneduh jiwa dikala gundah,
peninggi iman dikala jatuh,
terimakasih untuk ketulusanmu selama ini,,,
SAHABAT !!!!