Jumat, 15 April 2011

Bekerja untuk Kuliah??? Lho?!!

“Kuliah juga tujuan akhir nya kerja kan?” sering rasanya mendengar opini publik seperti itu, menggelitik dan sangat terkesan merendahkan makna belajar yang luhur bukan? Atau apa benar tak banyak orang yang sadar apa esensi utama dari kuliah itu? Besar harapan jawabannya adalah tidak. Namun jika iya, akan jadi seperti apa potret pendidikan di Negara kita tercinta ini? Maka cukup pantaslah bagi mahasiswa dan calon mahasiswa untuk memahami tujuan utama dari kuliah dan belajar, yaitu tak lain ialah untuk mencari ilmu, keahlian, dan keterampilan..

Namun, pada kenyataannya tak semua orang punya kesempatan untuk merasakan bangku kuliah dan mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Sehingga tak bisa dipungkiri opini publik diatas bisa jadi berbalik. Bagi mereka yang tak berkesempatan merasakan bangku kuliah regular, besar kemungkinan mereka untuk mencari pekerjaan terlebih dahulu. Sayangnya kenyataan di Indonesia saat ini, kesempatan kerja yang menjanjikan hanyalah ditujukan bagi orang yang merasakan bangku kuliah, dengan kata lain orang-orang yang telah mendapat gelar S1 atau minimal D3. Seperti bisa dilihat di beberapa Koran atau Situs di Internet yang menyediakan informasi lowongan kerja, kebanyakan kesempatan untuk posisi yang cukup tinggi itu ditujukan untuk lulusan Universitas bukan Sekolah Menengah. Persyaratan tersebut sangatlah membatasi mereka yang belum sempat merasakan bangku kuliah namun memiliki kemampuan yang cukup bisa diandalkan. Belum sempat beradu kemampuan, mereka harus tersisih oleh persyaratan registrasi. Adilkah? Sudah pasti tidak.

Jelaslah tak adil bagi mereka yang mempunyai kemampuan tapi belum mendapatkan kesempatan untuk duduk dibangku kuliah. Memang masih terasa kental sekali bahwa orientasi perusahaan-perusahaan di Indonesia saat ini masih pada gelar yang menurut mereka menjamin kemampuan seseorang. Oleh karena itu, bagi mereka yang belum mendapatkan gelar, haruslah mereka rela mengajukan lamaran untuk posisi yang lebih rendah daripada mereka yang sudah mendapat gelar sarjana.
Melihat kenyataan bahwa untuk melanjutkan pendidikan ke universtias banyak dari lulusan Sekolah Menengah yang terhalangi oleh biaya sedangkan untuk bekerja pada posisi yang tinggipun memerlukan gelar terlebihdahulu sebagai jaminan profesionalitas bagi perusahaan. Maka sudah tepat bagi mereka untuk memilih bekerja sebagai solusinya. Bahkan tak sedikit dari mereka yang memutuskan untuk mengambil kelas ekstensi hanya agar dapat merasakan bangku kuliah. Cukuplah untuk mematahkan opini publik yang menjudge bahwa kuliah hanya semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan. Karena ternyata, ada mahasiswa kelas ekstensi yang menjadikan pekerjaan sebagai alat baginya untuk mendapatkan kuliah yang berkualitas.

Lho, bekerja untuk kuliah? Ya, bekerja agar mendapat penghasilan untuk membiayai kuliah. Demi mendapatkan pendidikan, bekerja di siang hari dan kemudian tetap bersemangat mencari ilmu dimalam hari. Efektifkah cara belajar macam itu? Tergantung. Tergantung seberapa besar kemauan mahasiswa untuk mendapatkan pengetahuan dari proses belajar itu sendiri. Jikalah gelar cukup menjadi tujuan utama, maka proses belajarpun hanya jadi sebatas rangkaian persyaratan untuk bisa mendapatkan gelar. Namun, bagi orang yang benar-benar berorientasi pada ilmu dan memiliki semangat yang tinggi, rasa lelah setelah menjalani seabrek aktivitas dikantor pada siang hingga senja haripun tak akan terasa lagi. Yang menjadi persoalannya ialah, apakah semangat mendapatkan ilmu tersebut juga terfasilitasi oleh kualitas kampus yang menyediakan kelas ekstensi? Semoga iya, karena tentu tak adil bagi mereka yang bekerja membanting tulang hanya agar bisa merasakan bangku kuliah dan belajar demi mendapatkan ilmu, namun kemudian harus mendapati fakta bahwa kualitas belajar yang mereka terima tak sebanding dengan pengorbanan mereka untuk mendapatkannya.

Di Indonesia sendiri, banyak sekali universitas-universitas yang menyediakan kelas ekstensi. Tak hanya universitas swasta, univesitas negeripun ada yang menyediakan kelas ekstensi. UNPAD, UI dan UGM pun sempat menyediakan kelas ekstensi. Namun faktanya pada tahun 2009, UGM telah menutup program ekstensinya, sedangkan ekstensi UI rumornya pun akan ditutup. Adapun alasan utama ditutupnya program ekstensi di UGM ialah karena universitas ingin meningkatkan mutu pendidikan. Semenjak UGM membuka kelas ekstensi peringkatnya sebagai universitas berkualitas pun menurun.
Nah? Bagaimana sebenarnya kualitas dari program ekstensi yang disediakan oleh UGM, sehingga bisa menyebabkan penurunan penilaian terhadap mutu pendidikan? Jika lah universitas sebesar itupun, dapat menutup program ekstensinya karena masalah kualitas, lalu bagaimana dengan kualitas universitas-universitas muda yang menjamur menyediakan program ekstensi di Indonesia saat ini? Apakah justru dengan biaya yang jauh lebih murah mereka bisa menyediakan kualitas yang jauh lebih memuaskan? Bagaimana dengan para lulusan Sekolah menengah yang benar-benar rela bekerja pagi hingga sore hanya untuk mendapatkan pendidikan di level Universitas? Akankah mereka mendapatkan pendidikan yang berkualitas dengan penghasilan lulusan Sekolah menengah, yang nominalnyapun masih harus dikurangi biaya hidup.

Maka mengapakah begitu sulit untuk mendapatkan pendidikan di level universitas? Baiklah, apapun universitasnya kembali ketujuan awal belajar, mencari ilmu. Bagaimanapun kualitas yang didapat, ilmu bisa didapat darimanapun. Selagi seseorang bersedia mempelajari ilmu, dan bersemangat mencarinya, maka ia akan mendapatkan ilmu sebanyak yang ia mau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar