Jumat, 15 April 2011

saat orang-orangan sawah bercerita, ^_^

“Binatang apapun kau itu, rasakan kau perangkap ku!” begitulah gerutu pak tani yang kudengar saat satu per satu bagian tubuhku dibentuknya. Hari ini, akulah ide cemerlang yang pak tani temukan untuk menyelamatkan kebunnya. Ia begitu bersemangat mencari bahan-bahan untuk membuat tubuhku. Kayu, kain dan caping telah ia siapkan. Tubuhku memang hampir selesai, tapi ia masih tetap saja menggerutu mengutuki binatang yang ia sendiri belum tahu jelas binatang apa dia. Dari yang kudengar, ada jejak binatang yang telah memakan semua sayur dan buah-buahan Pak Tani di ladang. Dan akulah yang ia utus untuk menghentikan pencurian itu, katanya.

Kawan, baru aku tahu-masih dari gerutunya, ternyata rupaku memang sengaja dibentuk menyerupai tubuh manusia. Pak tani sudah membuat rencana hebat untuk menjebak si pencuri. Pak tani berharap sang pencuri akan berfikir kalau aku adalah manusia sungguhan. Sehingga ia tak akan berani lagi mencuri hasil panen Pak Tani. Iya, semoga saja ia memang terperangkap oleh aku, si orang-orangan sawah.

Aku sangat senang bisa membantu pak tani, hanya saja getah nangka yang dilumurkan Pak Tani pada tubuhku membuat aku sedikit tak nyaman. Lengket sekali rasanya. Kalau saja getah ini bukan rencana utama yang akan sangat membantu Pak Tani, tak mau aku dilumuri seluruh tubuh seperti ini.

Nah, setelah tubuhku benar-benar siap untuk dipajang di ladang, Pak tani lalu membopongku kesana. Iya kawan, kau kan tahu sendiri aku tak bisa bergerak, jadi harus ada yang mengangkutku. “Aku yakin kau akan terperangkap, binatang rakus!” Pak Tani berceloteh diperjalanan. “Kau fikir, aku tak lebih cerdik darimu, hah? Lihat saja nanti, kau akan tahu apa balasan untuk binatang yang berani mengacak-acak ladangku”. Tak tahu aku, kenapa Pak Tani begitu yakin ia akan bisa menangkap sang pencuri, padahal mungkin saja kan kalo dia tidak akan pernah mendekati ladang Pak Tani lagi, jika aku sudah berdiri mematung di ladangnya itu. Iya kan?

Dan setelah beberapa saat Pak Tani meninggalkanku diladang dan berpesan, memohon lebih tepatnya agar aku bisa mengelabui sang pencuri, datang seekor binatang mendekatiku. Mulanya ia meminta maaf padaku. Ya, berhasil ternyata membuat dia percaya bahwa aku ini juga manusia. “Pak Tani, kancil minta maaf karena telah merusak ladang Bapak. Kancil tidak bermaksud untuk membuat Pak Tani rugi. Kancil hanya lapar, dan kemudian menemukan ladang milik Bapak. Bapak mau kan memaafkan kancil?” jelasnya. Barulah dari situ aku tahu kalau ia itu ialah si kancil, sang pencuri hasil panen Pak Tani. Namun apalah mau dikata, aku kan bukan benda hidup yang bisa berbicara. Sebenarnya aku ingin sekali berbicara dengannya, menanyakan bagaimana ia bisa mencuri buah-buahan dan sayuran Pak tani hingga ia murka seperti itu. Namun aku hanya bisa diam, mendengarkan permintaan maafnya yang semakin lama, semakin berubah menjadi amarah. Ia berteriak-teriak mengelilingiku, masih tetap dengan tujuan agar aku mau menjawab pertanyaannya. Hingga pada puncak celotehnya ia kesal bukan kepalang. “Heh, Pak Tani menyebalkan, kenapa tak menjawab pertanyaanku? Aku kan sudah minta maaf dan menjelaskan kenapa aku mencuri diladangmu?” Aku tetap tak menjawab. Tiba-tiba “Buukkkkk” ia memukulku dengan tangan kanannya dan tak bisa dilepas karena lengket. Efek getah nangka, kawan. Kini ia makin kesal dan, “Buukkkkk, aghrr kenapa nempel lagi” teriak kancil. “Kau memang keterlaluan ya Pak Tani, aku masih punya kaki untuk membuatmu bicara, Buuuk” kancil menyerah setelah tendangannya juga tak bisa ia lepas dari tubuhku.

Ternyata rencana Pak Tani berhasil dengan bantuanku. Senja tiba, Pak Tani melihat ke ladang dan betapa girangnya ia ketika menemukan si pencuri telah ditemukan. Ia sempat berdialog dengan si kancil. “Oh, ternyata kaulah pencurinya, kancil.” Katanya sumringah. “Sudah kubilang, secerdik apapun kau, akan masih tetap cerdik aku bukan?” dengan nada yang tambah sombong. Kancil tak mau menjawab, hanya berekspresi memelas, memohon agar ia dibebaskan. Dalam diamnya dan hanya aku yang mengerti dari cerita panjangnya tadi, ia mencoba mengekspresikan bahwa ia tak ingin mencuri kalau ia tak kelaparan. Dulu ia berhasil lari dari ancaman kebakaran hutan dan tersesat di kebun Pak Tani. Sialnya Pak Tani tak sedikitpun bersimpati pada si kancil, ia tetap membawa si kancil pulang ke rumahnya.

Dan aku? Tetap ia tinggalkan disawah, dengan berbisik ia berkata “Kau tetap sajalah disini, jaga ladang ku ini agar tak ada lagi binatang yang berani mengacak-ngacak hasil panenku!”. Aku tak bisa melawan perintahnya sekalipun rasa ingin tahuku tentang bagaimana nasib si kancil selanjutnya begitu besar. Maka, hingga itu lah yang aku tahu, ya semoga saja si kancil mendapat pelajaran dari pengalaman buruknya tertangkap Pak Tani ini. Memang dalam keadaan apapun kita tak boleh menjadikan seburuk-buruknya keadaan sebagai alasan untuk berbuat tak baik. Yang tak adil tetaplah tak adil sekalipun dilakukan untuk kebaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar