Rabu, 07 Desember 2011

Ketika Keyakinan saya dipertanyakan


Sempat terbesit rasa kesal karena lagi-lagi harus dipertanyakan dan dipojokkan, kenapa masih harus diragukan? Kepercayaan dan keyakinan adalah hal yang sebelumnya saya fikir sangat pribadi dan memunculkan perdebatan ketika diperbincangkan. Namun keadaan malah berbalik, justru topik itulah yang harus didiskusikan karena ia menjadi satu-satunya topik yang fokus dipelajari dalam mata kuliah humanistik yang saya ambil. Beberapa pertemuan kami membahas mengenai keberagaman dalam berkeyakinan di negeri tercinta ini. Begitu banyak cerita yang didengar dan didiskusikan, terlarut dalam keberagaman yang terasa indah memang, namun akhirnya tibalah saya pada sebuah pertanyaan yang harus saya jawab, “Do you believe in God?”.  Respon cepat dan langsung berucap, “Yes, I do”. Segala puji bagi Allah, tuhan semesta alam.
 Ketika berbicara mengenai agama dan Tuhan, diperlukan beberapa kemampuan yakni ilmu yang cukup mengenai agama dan Tuhan yang diyakini, juga kemampuan menyampaikan pendapat dengan sopan serta santun namun juga provokatif. Terkadang sulit menyatukan kedua hal tersebut dalam sebuah diskusi, hingga akhirnya berbagai pertanyaan mengenai keberadaan Tuhan yang sebelumnya menggelitik berubah menjadi menyesakkan. Freud berpendapat bahwa semakin banyak pertanyaan mengapa kita mempercayai Tuhan, maka akan semakin menimbulkan rasa ingin tahu yang berujung pada semakin tinggi tingkat keyakinan seseorang terhadap Tuhan tersebut (red. Semoga). Saya juga cukup menyadari bahwa proses ini adalah proses dimana saya sedang distimulus untuk mencari tahu jauh lebih dalam dan agar semakin memahami konsep keyakinan itu sendiri. Namun saya tidak sepaham dengan Emile Durkheim ketika ia mengatakan bahwa agama bergantung pada masyarakat sebagai pegikutnya serta pada ritual-ritual yang dilaksanakan, yang secara sederhana ia menyatakan bahwa agama adalah bagian dari budaya. Saya sebagai umat beragama yang jelas-jelas meyakini akan adanya suatu Dzat yang maha kuasa yang menciptakan alam semesta beserta isinya ini, tidak dapat menerima bahwa Agama dikatakan sebagai sesuatu yang turun temurun dan dibentuk sendiri oleh manusia yakni dengan membentuk dan menjalankan berbagai ritual. Saya tidak dapat begitu saja melepaskan keyakinan saya ketika harus mempelajari keberagaman keyakinan. Saya cukup mampu bertoleran dan menghargai perbedaan keyakinan dengan tidak selalu menunjukan bahwa agama saya yang paling benar—sekalipun saya percaya itu—namun saya tidak dapat berperilaku bahkan hanya sekedar berpandangan yang sifatnya sementara sekalipun, bahwa agama bukan berasal dari Tuhan. Bagi saya Agama adalah cara manusia memvisualisasikan keyakinannya terhadap Tuhan kedalam sebuah kata, yang ternyata dalam kehidupannya tidak semua orang berkeyakinan sama dengannya. Agama adalah cara manusia mengeneralisasikan suatu konteks yang sama namun ternyata dalam jalan dan bentuk yang tidak semua sama bagi orang-orang di kehidupannya. Saya mengakui saya adalah orang yang masih belajar dan bukanlah seseorang yang ahli dalam sejarah agama saya, namun saya juga bukan seorang filsuf yang berkewajiban untuk selalu bertanya, seperti yang dikatakan Saras Dewi. Saya hanyalah seorang yang ingin menjadi tenaga pendidik yang sedang mempelajari mata kualiah Humanistik—lebih spesifik lagi mata kuliah mengenai agama. Setiap profesi memiliki spesifikasi keahliannya masing-masing. Sehingga berkeyakinan bukanlah hal yang salah bagi saya untuk tetap dipegang normanya dalam setiap langkah berfikir, juga dengan tetap bertoleran terhadap sesama. Kehidupan terlalu indah jika sekedar untuk dipertanyakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar