Sempat terbesit rasa kesal karena
lagi-lagi harus dipertanyakan dan dipojokkan, kenapa masih harus diragukan?
Kepercayaan dan keyakinan adalah hal yang sebelumnya saya fikir sangat pribadi
dan memunculkan perdebatan ketika diperbincangkan. Namun keadaan malah
berbalik, justru topik itulah yang harus didiskusikan karena ia menjadi
satu-satunya topik yang fokus dipelajari dalam mata kuliah humanistik yang saya
ambil. Beberapa pertemuan kami membahas mengenai keberagaman dalam berkeyakinan
di negeri tercinta ini. Begitu banyak cerita yang didengar dan didiskusikan,
terlarut dalam keberagaman yang terasa indah memang, namun akhirnya tibalah
saya pada sebuah pertanyaan yang harus saya jawab, “Do you believe in God?”. Respon cepat dan langsung berucap, “Yes, I
do”. Segala puji bagi Allah, tuhan semesta alam.
Ketika berbicara
mengenai agama dan Tuhan, diperlukan beberapa kemampuan yakni ilmu yang cukup
mengenai agama dan Tuhan yang diyakini, juga kemampuan menyampaikan pendapat
dengan sopan serta santun namun juga provokatif. Terkadang sulit menyatukan
kedua hal tersebut dalam sebuah diskusi, hingga akhirnya berbagai pertanyaan
mengenai keberadaan Tuhan yang sebelumnya menggelitik berubah menjadi
menyesakkan. Freud berpendapat bahwa semakin banyak pertanyaan mengapa kita
mempercayai Tuhan, maka akan semakin menimbulkan rasa ingin tahu yang berujung
pada semakin tinggi tingkat keyakinan seseorang terhadap Tuhan tersebut (red.
Semoga). Saya juga cukup menyadari bahwa proses ini adalah proses dimana saya
sedang distimulus untuk mencari tahu jauh lebih dalam dan agar semakin memahami
konsep keyakinan itu sendiri. Namun saya tidak sepaham dengan Emile Durkheim
ketika ia mengatakan bahwa agama bergantung pada masyarakat sebagai pegikutnya
serta pada ritual-ritual yang dilaksanakan, yang secara sederhana ia menyatakan
bahwa agama adalah bagian dari budaya. Saya sebagai umat beragama yang
jelas-jelas meyakini akan adanya suatu Dzat yang maha kuasa yang menciptakan
alam semesta beserta isinya ini, tidak dapat menerima bahwa Agama dikatakan
sebagai sesuatu yang turun temurun dan dibentuk sendiri oleh manusia yakni
dengan membentuk dan menjalankan berbagai ritual. Saya tidak dapat begitu saja
melepaskan keyakinan saya ketika harus mempelajari keberagaman keyakinan. Saya
cukup mampu bertoleran dan menghargai perbedaan keyakinan dengan tidak selalu
menunjukan bahwa agama saya yang paling benar—sekalipun saya percaya itu—namun
saya tidak dapat berperilaku bahkan hanya sekedar berpandangan yang sifatnya
sementara sekalipun, bahwa agama bukan berasal dari Tuhan. Bagi saya Agama
adalah cara manusia memvisualisasikan keyakinannya terhadap Tuhan kedalam
sebuah kata, yang ternyata dalam kehidupannya tidak semua orang berkeyakinan
sama dengannya. Agama adalah cara manusia mengeneralisasikan suatu konteks yang
sama namun ternyata dalam jalan dan bentuk yang tidak semua sama bagi
orang-orang di kehidupannya. Saya mengakui saya adalah orang yang masih belajar
dan bukanlah seseorang yang ahli dalam sejarah agama saya, namun saya juga
bukan seorang filsuf yang berkewajiban untuk selalu bertanya, seperti yang
dikatakan Saras Dewi. Saya hanyalah seorang yang ingin menjadi tenaga pendidik
yang sedang mempelajari mata kualiah Humanistik—lebih spesifik lagi mata kuliah
mengenai agama. Setiap profesi memiliki spesifikasi keahliannya masing-masing.
Sehingga berkeyakinan bukanlah hal yang salah bagi saya untuk tetap dipegang
normanya dalam setiap langkah berfikir, juga dengan tetap bertoleran terhadap
sesama. Kehidupan terlalu indah jika sekedar untuk dipertanyakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar